Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh dan Selamat Malam Readers !
MAKASSAR DUBELS MEDIA - Hari ini tepat tanggal 24 September 2018 diperingati sebagai Hari Tani Nasional. Hari peringatan ini diambil dari hari lahirnya Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) pada 1960, yang menjadi titik penting sejarah bangsa dalam memandang arti penting petani dan hak kepemilikan atas tanah serta keberlanjutan masa depan agraria di Indonesia.
Mohammmad Ali (Sekjend AGRA) juga menyampaikan bahwa, momentum hari tani nasional ini harus dapat dijadikan salah satu ruang untuk terus mengkampanyekan berbagai persoalan kaum tani dan seluruh rakyat tertindas Indonesia, memblejeti kebijakan “Reforma Agraria Palsu dan Perhutanan Sosial (RA-PS) Jokowi, beserta seluruh kebijakan neoliberal dan tindasan fasisnya terhadap rakyat, terutama ancaman fasis kebijakan barunya atas nama stabilisasi politik dan keamanan nasional, melalui peraturan pemerintah pengganti undang-undang (PERPPU) No. 2 tahun 2017 tentang organisasi kemasyarakatan".
Hal ini amat penting mengingat mayoritas rakyat Indonesia adalah petani, dan berdampingan dengan kompleksnya kehidupan agraria. Dalam bertani, hasil yang diproduksi bisa lebih dari sebatas untuk dikonsumsi keluarga.
"Pertanian terlihat perkasa mudah ketika bajak Anda adalah pensil dan kau seribu mil dari ladang jagung", Dwight D. Eisenhower.
(mia)
MAKASSAR DUBELS MEDIA - Hari ini tepat tanggal 24 September 2018 diperingati sebagai Hari Tani Nasional. Hari peringatan ini diambil dari hari lahirnya Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) pada 1960, yang menjadi titik penting sejarah bangsa dalam memandang arti penting petani dan hak kepemilikan atas tanah serta keberlanjutan masa depan agraria di Indonesia.
Mohammmad Ali (Sekjend AGRA) juga menyampaikan bahwa, momentum hari tani nasional ini harus dapat dijadikan salah satu ruang untuk terus mengkampanyekan berbagai persoalan kaum tani dan seluruh rakyat tertindas Indonesia, memblejeti kebijakan “Reforma Agraria Palsu dan Perhutanan Sosial (RA-PS) Jokowi, beserta seluruh kebijakan neoliberal dan tindasan fasisnya terhadap rakyat, terutama ancaman fasis kebijakan barunya atas nama stabilisasi politik dan keamanan nasional, melalui peraturan pemerintah pengganti undang-undang (PERPPU) No. 2 tahun 2017 tentang organisasi kemasyarakatan".
Hal ini amat penting mengingat mayoritas rakyat Indonesia adalah petani, dan berdampingan dengan kompleksnya kehidupan agraria. Dalam bertani, hasil yang diproduksi bisa lebih dari sebatas untuk dikonsumsi keluarga.
"Pertanian terlihat perkasa mudah ketika bajak Anda adalah pensil dan kau seribu mil dari ladang jagung", Dwight D. Eisenhower.
(mia)

Komentar
Posting Komentar